ESPECIALLY FOR YOU
Sesuatu yang
kecil bisa menyelinap dan menghancurkannya dari dalam. Dan yang paling aku
takut kan adalah, semuanya tejadi tanpa sempat kamu sadari.
Ironis rasanya
mengetahui bagaimana seorang manusia biasa dengan percaya diri dan mudahnya
melewati sebuah badai yang besar. Namun dalam waktu yang sama mengetahui ada
beberapa pasang manusia yang bisa hancur karena kerikil kecil.
Sepasang manusia
yang akhirnya rela saling melepaskan genggaman tangan hanya karena ancaman
kerikil kecil, padahal sebelumnya pernah melewati puluhan badai yang luar biasa
besarnya berdua. Logikanya, sepasang manusia yang berhasil melewati badai
berdua atas nama cinta pasti lebih bisa melewati kerikil kecil. Namun sekali
lagi, cinta seringkali tak sejalan dengan logika.
Badai yang besar
harusmya malu kepada kerikil kecil. Dan sepasang manusi yang kehilangan cinta
hanya karena kerikil kecil, akan tertutup mukanya oleh pasir yang terbawa oleh
angin badai.
Aku tak ingin
malu di depan badai dan kerikil, beserta pasir yang senantiasa menyertai
mereka.
Sebuah cinta,
semestinya bisa lebih dilawan dari badai dan kerikil yang melanda.
Kepada kamu,
genggam tanganku. Kita mulai semuanya dari awal, dan mencapai kebahagian
kembali, kita langkahi kerikil kecil yang telah mengganggu kita.
.
.
.
.
.
.
.
Ia. Lekaki biasa
yang mampu menyelinap dan menempati ruang sisi hatiku yang terdalam. Dulu, aku
bahagia karna kau yang selalu hadir di hari-hari ku. Tak terhitung berapa lama
aku menghabiskan waktu ku dengannya. Yang kutahu, aku sangat bahagia karna
kehadiranmu dihidupku. Aku, Roro Nugroho akhirnya menjadi satu kesatuan yang
begitu utuh, bersama lelaki itu, Indra Rizki Permana.
Kita lahir
ditahun yang sama, hanya lingkungan yang menempatkanku diatasnya. Maksudku, aku
dan dia berbeda dengan bulan kelahiranku. Aku yang lebih tua, dia yang lebih
muda dariku 4 bulan. Tak ada salahnya bukan?
“KETIKA DIA
BERBUAT SALAH, INGATLAH KEBAIKANNYA”
Terkadang, aku
merasa kamu terlalu muda untukku. Memang, umur kita sama. Tetapi lingkungan
yang membuat kita berbeda. Aku dengan pikiran dewasaku sedangkan kamu dengan
pikiran ke kanak-kanakanmu. Kadang aku merasa letih dengan watakmu yang tak
mampu aku ubah. Padahal aku sudah berusaha mengajarkamu, memberitahumu dan
mengingatkanmu. Tapi kamu tetap dengan pola pikirmu. Aku hanya bisa memaklumi
dan berharap kamu bisa merubah sedikit cara berfikirmu. Tidak harus sepertiku,
tapi berubahlah sebagaimana semestinya.
Kita lalui
hari-hari bersama. Tak mampu kujelaskan bagaimana perasaanku. Yang pasti,
perasaan ini berbeda dari perasaan- perasaan sebelumnya dan ini adalah hal yang
mungkin pertama kali aku rasakan. KAMU, membuat hidupku berbeda dan lebih
berwarna. KAMU, merubah hidupku menjadi lebih indah. Bukan, bukan hanya sekedar
lebih indah namun jauh lebih indah tepatnya,
Indra Rizki Permana.
Tapi sejak saat
itu, hal indah yang kurasakan perlahan terkikis. Ketika aku mengetahui bahwa
kamu belum terlalu nyaman denganku. Kata itu yang membuat otakku berputar lebih
cepat dari seperti biasanya, aku memutar otakku agar aku menemukan cara untuk
membuatmu nyaman seutuhnya dengan aku. Aku tak ingin mengeluh atas semuanya
yang terjadi. Mungkin tuhan punya rencana lain, rencana yang lebih indah dari
rencanaku dan ia lebih mengetahuinya segalanya daripada diriku. Maka aku
persembahkan segalanya dan aku jalani apa yang harus kujalani. Hingga waktu
yang tak dapat ditentukan.
Aku sangat
beruntung mempunyai kekasih yang tak pernah meninggalkanku sepertimu, namun
pada akhirnya kau yang pergi begitu saja meninggalkanku, karena kerikil kecil
itu yang terus mengganggu pikiranmu selama ini. Namun, aku masih punya
sahabat-sahabat yang selalu ada untukku.
Hari demi hari ku
jalani. Kurasakan perbedaan dalam hubungan kita. Pertengkaran kita yang selalu datang,
masalah besar apapun kecil, kenyamananmu kepada ku berkurang semakin harinya
karna kerikil itu, hingga akhirnya kau merasakan tidak ada nya kecocokan dan
kenyamanan untuk kita berdua lagi. Aku sangat memikirnya, rambutku yang mulai
rontok, kepalaku yang setiap harinya merasakan sakit, dada ku yang sangat
sesak, dan sakit hati yang sangat mendalam yang kurasakan. Tapi aku tak
memperdulikan kondisiku, aku malah memikirkanmu yang tampak berbeda, hingga aku
memberanikan diri, untuk selalu mengganggu mu lewat komunikasi supaya kau
menyadari bahwa aku masih ada disini. Tapi kau malah memarahi ku dan menyuruhku
untuk pergi meninggalkanmu sendiri, dengan cara kau meminta untuk beristirahat
dalam hubungan kita ini. Ketika ku membaca pesan singkat itu, seketika aku
tekatkan dalam diriku untuk selalu tersenyum dan kuat apapun masalah yang kita
lewati. Bukan hanya untuk diriku, tapi untuk dirimu yang sudah menjadi bagian
dari hidupku.
Tak terasa, kita
telah menjalani semuanya bersama-sama selama 4 bulan 13 hari menuju 5 bulan. Kenangan
yang tak mampu aku jabarkan dengan kata-kata. Yang ada, hanyalah air mataku
yang bergulir mengalir melewati pelipis pipiku ketika aku mengingatnya. Hei,
Indra Rizki Permana. Entah bagaimana caranya aku berterima kasih kepadamu. Untuk
waktu dan perjuangan yang kamu berikan. Juga untuk kesetiaan dan cinta yang
begitu amat besar. Terimakasih Indra Rizki Permana. Tinggal-lah semua kenangan
kita selama ini. Maaf jika aku terlalu banyak membuatmu kecewa dan melakukan
banyak kesalahan kepadamu. Aku titipkan segala hal yang aku sayangi dan impian
masa depan kita bersamamu. Percayalah, aku menunggumu disini seperti pertama
kali kita berkenalan dan aku menunggumu untuk menyatakan cinta kepadaku. Sampai
bertemu lagi, Runaways.
THE END.